Istirahat dari Media Sosial

Mungkin karena masih bawaan flu berat yang kemarin, jadi rasanya masih feeling blue dan hampa. Aku masih ingat ketika covid dulu, saat proses penyembuhan selalu diakhiri dengan perasaan yang mirip depresi: sedih, hampa, energi mudah terkuras dan gak tertarik melakukan hal-hal yang dulu disukai (anhedonia). 

Buka-buka media sosial rasanya pun capek banget, terutama Threads. 

Ini gak biasanya sih, karena aku termasuk yang sering baca-baca curhatan orang di Threads. Sesekali komentar juga. Intinya, aku senang-senang aja main di Threads. 

Tapi kali ini beda. Baca utas-utas yang isinya masalah orang-orang rasanya terserap banget energi. Capek dan hampa. Gak cuma itu, rasanya krisis eksistensialku juga kembali bangkit gara-gara lihat kesusahan orang.

Ada Inara Rusli yang emang layak dicancel ibu-ibu senusantara, geram sekaligus heran: "kok ada ya perempuan sejahat ini?". Lalu, ada dua orang tua yang kehilang enam anaknya satu persatu di masa tua dan hanya menyisakan satu anak yag juga sakit-sakitan. Ada orang yang berjuang dengan penyakit kankernya, tapi anehnya tetap lucu dan bersemangat. Ada yang berantem karena fotonya dicuri sama affiliator Shopee. Ada yang pura-pura jadi pramugari Batik Air selama bertahun-tahun, tapi anehnya kok banyak yang belain. Ada yang trauma sama omongan orangtuanya puluhan tahun lalu (emang keterlaluan banget sih omongannya). Belum lagi masalah dalam dan luar negeri yang gak ada habis-habisnya. 

Serius, kayaknya aku benar-benar harus istirahat dulu dari dunia medsos. Sudah seminggu lebih gak interaksi di Instagram. Buka Whatsapp seperlunya, gak buka-buka story siapapun. Dan baru aja aku uninstall Threads. 

So draining... 

Membingungkan buatku, kalau sudah seperti ini aku harus melakukan apa? 

Bayangkan, hal-hal yang dulu disukai seperti membaca buku, komik, dandan, nyalain aromatherapy, scrolling media sosial, sekarang tiba-tiba BLAS, minatnya hilang begitu saja. 

Rasanya seperti mengalami depresi. Bagi yang sudah mengalaminya pasti tahu seperti apa anhedonia.  Tapi, disebut depresi juga bukan. Terlalu ringan untuk disebut sakit, tapi untuk dibilang baik-baik saja secara mental juga gak bisa.

Aku cuma coba menulis di sini. Berharap ada sparks yang membuat hidupku engga lagi terasa hampa. Setidaknya aku tahu, kalau aku masih bisa menulis di sini, aku belum saatnya pergi berkunjung ke psikiaterku.  

 

Komentar