Covid atau Superflu?
Di tengah ramainya berita soal superflu dan cerita orang-orang yang satu persatu tumbang setelah liburan akhir tahun, aku dan keluarga juga ikut tumbang nyaris dua minggu gara-gara gejala flu berat yang aneh.
Aku gak tahu ini superflu atau bukan. Tapi sejujurnya, ini rasanya sangat mirip covid. Aku pernah 3x positif covid di masa-masa pandemi 2001-2003, dan rasa flu ini sangat mirip dengan yang pernah aku alami:
- Demam >39 derajat celcius dan menggigil
- Batuk kering
- Diare
- Tiba-tiba muncul pilek di tengah-tengah batuk. Kalau flu biasanya pilek itu muncul di awal berbarengan dengan demam.
- kehilangan rasa asin, tapi rasa manis jadi terlalu menonjol. Bahkan air putih rasanya manis!
- kehilangan kemampuan mencium aroma, bahkan saat pilek dan mampetnya hilang.
- Fatigue. Lemes banget sampai susah turun dari tempat tidur.
- Dan yang paling mengganggu: pegal, sakit, nyut-nyutan di sekujur tubuh.
Well, akhirnya sih semua gejala mereda juga. Tapi lemasnya masih nyisa. Dan anehnya, setelah sembuh bukannya bersemangat, malah rasanya gloomy. Seperti gejala depresi.
Sekarang aku mau share kronologi lengkapnya.
KRONOLOGI
Senin, 29 Desember 2025
Semua berawal dari hari Senin terakhir di tahun 2025. Hari itu aku beli Tous Les Jours agak banyak dan aku makan beberapa. Malamnya perut gak enak, BAB lembek. Wah, jangan-jangan diare gara-gara kebanyakan makan tepung, nih. Pikirku seperti itu tadinya, karena sesekali aku bisa diare hanya karena terlalu banyak makan roti.
Saat ini suamiku udah mulai gak enak badan. Sumber penularan emang dari dia sih :(
Selasa, 30 Desember 2025
Perut masih sakit dan diare. Mulai sakit-sakit badan. Gak pernah kepikiran bakal flu, padahal pas covid dulu sebelum muncul gejala pernapasan ada gejala perut duluan.
Malamnya batuk kering, cuma berdehem-dehem aja karena gatal di tenggorokkan.
Rabu, 31 Desember 2025
Udah gak diare, tapi batuk yang cuma gelitik-gelitik di tenggorokkan lanjut jadi batuk beneran. Anak-anak mulai demam. Bapaknya demam dari kemarin, cuma sekarang aku gak terlalu mikirin karena fokus ke dua anak yang sakit barengan. Untungnya dia gak manja dan tau kalau aku pasti repot ngurus dua anak yang sakit.
Kamis, 1 Januari 2026
Paginya aku menggigil. Sepanjang hari demam >39 derajat. Fatigue, myalgia, sakit kepala, batuk kering. Lengkap deh. Pas di sini udah gak bisa ngapa-ngapain. Suami minta dibikinin oatmeal pun aku gak bisa bangun. Akhirnya dia bikin cream soup buat bareng-bareng.
Jumat 2 Januari 2026
Masih sama seperti hari sebelumnya. Belum ada perubahan. Masih di tempat tidur seharian. Betul-betul setepar itu.
Sabtu 3 Januari 2026
Mulai ada perubahan sedikit. Frekuensi menggigil mulai hilang, demam mulai gampang turun. Tadinya pakai antipiretik susah banget turun ke suhu normal, selalu subfebris. Kali ini bisa mencapai 37 derajat pas.
Minggu 4 Januari 2026
Muncul gejala hidung: gatal, bersin, mampet. Flu yang aneh. Biasanya gejala hidung seperti ini muncul di awal, ini malah muncul tengah-tengah pas demamnya udah mulai reda. Batuk berdahak makin-makin deh karena lendirnya makin numpuk dan kental.
Muncul gejala aneh yang lain: Sariawan di tonsil, alias di amandel!! Sariawan di lidah aja udah sesakit itu, ini sariawan di amandel: tiap telan sesuatu rasanya kaya ketusuk-tusuk.
Senin 5 Januari 2026
Udah gak demam. Sisa fatigue, myalgia, sakit kepala dan pilek-pilek.
Lidah gak bisa ngerasain rasa masakan, rasa asin samar-samar, rasa manis terlalu manis. Aneh. Hidung gak bisa cium aroma, ya wajar aja soalnya mampet kan.
Masih sariawan. Cuma tambahan betadine kumur aja biar cepet kempet.
Selasa, 6 Januari - Jumat, 9 Januari 2026
Gejala sudah mereda. Anak-anak udah full recovery, walaupun berat badannya sempat turun banyak gara-gara males makan. Yang tersisa di aku tinggal beberapa gejala aja: fatigue, sariawan di tonsil (makin hari makin kempes), batuk berdahak, indera perasa dan penciuman yang masih TUMPUL.
Sabtu, 10 Januari 2026
Overall, kondisiku dan keluarga udah oke. Selama sakit dibantu sama ibuprofen untuk demam dan nyeri badan. Mucopect buat ngecerin dahak kental. Vitamin D 5000, Multivitamin dan Zinc.
Sekarang: perasaan hampa
Pertanggal tulisan ini dibuat, aku masih merasakan beberapa gejala sisa: lemas sedikit, belum bisa merasakan rasa dengan benar. Terus, penciumanku belum balik 100% padahal udah gak pilek sama sekali. Ini mirip banget kaya pas aku covid dulu, huhu. Kalau beneran ini covid, pencium baru bisa normal setelah berminggu-minggu.
Dan muncul satu gejala aneh, dan ini juga muncul di setiap aku covid: aku merasakan gejala depresi: rasa kosong, melankolis, sedih, anehdonia--gak tertarik melakukan hal-hal yang tadinya aku suka.
Bahkan aku gak semangat buka media sosial.
Akhirnya aku mencoba menulis di sini agar muncul sedikit sparks.
Satu lagi, sebagai orang yang terdiagnosis ADHD, isi kepala yang kosong melompong kaya gini rasanya sangat aneh. Biasanya isi kepalaku penuh dan riuh, tapi aku merasa bersemangat melakukan banyak hal. Tapi setelah sakit ini, ada satu rasa yang menojol: hampa. Tidak cuma perasaanku yang kosong, isi kepalaku juga polos.
Entah ini covid atau superflu, aku harap bisa kembali seperti sedia kala dari flu berat yang aneh ini. Duh, ada-ada aja sih, baru juga masuk tahun baru.
Komentar
Posting Komentar